Peran anak muda di pusaran politik Desa

 Oleh: Madhy Abdullah

Kupang-wd.b.Com. Desa menjadi wilayah yang menjalankan demokrasi seutuhnya. Secara historis, rakyat mengurusi dirinya sendiri karena berkaitan dengan besarnya lingkungan di setiap desa. Segala aturan yang dibuat oleh desa melibatkan sebagian besar elemen masyarakat tanpa adanya perantara perwakilan. Demokrasi yang benar-benar dijalankan langsung oleh orang banyak. Maka itu, sekarang desa diberi kewenangan mengurusi dirinya sendiri (otonomi desa).

Desa hari ini sudah cukup dewasa untuk memberikan ruang kepada anak muda. Melibatkan pemuda di setiap aspek pembangunan desa. Tidak sungkan-sungkan, pemuda juga diberikan kesempatan menempati struktur eksekutif desa. Ini adalah demokrasi yang sehat. Kabinet desa tidak pandang identitas, anak muda diberikan otoritas.

Eksistensi anak muda hanya seputaran posisi struktural. Belum sampai pada pucuk pimpinan atau superior. Ambisi anak muda hari ini menjadi kekuatan baru dalam politik desa dan problem ini menjadi faktor utama kegelisahan atau kegalauan anak muda. Asumsi liar yang beredar, seringkali isu adab dan etika yang dimainkan. Anak muda haruslah mendahulukan yang lebih tua sebagai figur yang sudah lebih dulu hidup dan mempunyai kemampuan. Lebih mampu dalam mengurusi rumah tangga pemerintahan.

Nah, mengapa anak muda di cap minim kemampuan?, Padahal kapasitas pemuda hari ini jauh dari kata minim. Anak muda selalu di stigmakan sebagai dalang kegaduhan dan keresahan lingkungan. Mengganggu ketentraman dan keharmonisan. Figur yang lebih tua hanya dapat menilai pemuda dari sisi negatif. Padahal, banyak sekali sisi positif pemuda yang harus diperhatikan.

Peran pemuda di desa atau lingkungan sangatlah dominan. Kenapa?, Secara budaya gotong royong dalam sebuah perhelatan, anak mudalah yang menjadi pemeran utama, mengurusi seluruh keperluan dan perlengkapan. Ucapan yang sering di dengar, "Panggil anak muda datang minum teh baru mereka kerja teng (tenda)". Nah, ini salah satu kelebihan anak mudah. Pelajaran penting yang kita petik adalah Kepercayaan yang diberikan benar-benar dikerjakan dan artinya, sangat mungkin persoalan nyata mengenai pembangunan desa juga akan mudah diselesaikan. Semangat dari pemuda itu harus yang diperhatikan.

Kita kaitkan dengan politik desa saat ini. Seharusnya pemuda sudah sepantasnya diberikan kepercayaan untuk memimpin. Bukan berarti memimpin desa hanya seputaran bikin teng (tanda). Namun dari tugas dan kepercayaan yang diberikan mampu dikerjakan dengan baik itulah yang menjadi amunisi terbaik dalam kompetisi politik desa. Ditambah lagi dengan bekal pengetahuan selama menyusuri dunia pendidikan adalah suplai yang sempurna dan utuh. Menjadi salah satu penunjang agar mendapat respon yang baik dari publik. Integritas dan akuntabilitas juga menjadi hal yang harus diperhatikan.

Saatnya pemuda bangkit dan menjadi motor penggerak ekonomi desa. Pemuda sudah terlalu lama dininabobokan dengan etika atau adab. Pemuda bangkit bukan berarti kurang ajar. Karena tidak ada aturan yang mengatur tentang tua dan muda dalam politik. Demokrasi memberikan kebebasan untuk siapa saja.

Salam literasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Direktur LBH BIFA : Bupati Kupang Tidak Paham Regulasi Penjualan aset Daerah